17 Agustus 1945 yang silam , seluruh rakyat Indonesia bersuka ria dengan meneriakkan kemerdekaan NKRI dengan seksama. Apakah kemerdekaan itu sudah mutlak kita rasakan ? saya teringat dengan perkataan Bung Karno “saya sudah berhasil melawan dan mengusir penjajah , sekarang kalian lah yang akan melawan bangsa kalian sendiri” apa perkataan itu ? yang bisa saya tanggapi seperti kutukan yang telah di takdirkan. Saya rasa kemerdekaan yang bisa dirasakan secara mutlak hanya bisa dirasakan oleh para kaum-kaum borjuis yang saat ini di beri amanat untuk mensejahterakan rakyat nya , tetapi tidak seperti yang kita harapkan.
Perjalanan
tiga hari yang saya rasakan dengan abang-abang saya Raizikin dan Nisfu Sya’ban
adalah perjalanan yang sangat menakjubkan , perjalanan kali ini adalah sekaligus untuk pembelajaran
dan menambah wawasan saya terhadap daerah dan perangkatnya. Kami menelusuri
beberapa desa yang terkena musibah banjir bandang , dengan membawa beberapa
bantuan dari lembaga pemerintahan pusat DPD RI asal Aceh. Kami berkunjung ke
Aceh barat tepatnya di desa Merbou Meulaboh dan Aceh Selatan tepat nya di Kluet
Utara desa Sawah Kecamatan Menggamat. Seluruh desa yang kami kunjungi mengalami
musibah yang serius Alhamdulillah pada musibah ini tidak ada korban jiwa tetapi
korban mengalami musibah dengan kerugian yang berat.
Tepat
pada desa Sawah di Kecamatan Kabupaten Aceh Selatan kami mendapatkan sesuatu
bukti akan tidak adanya perhatian terhadap desa dan anak muda yang ada di desa
itu , terlihat jelas , sekolah dengan fasilitas yang tidak layak , dan bangunan
yang tidak layak huni lagi dan pembekalan wawasan kenegaraan yang tidak pasti
terhadap perangkat desa. Perhatian ini saya fikir sangat penting untuk di
berikan , karena desa dan pemuda adalah ujung tombak kemajuan daerah dan negara
juga. Jika lembaga pemerintahan daerah terutama desa tidak diberikan perhatian
yang khusus dan peninjauan yang kuat untuk kepentingan kita bersama , desa
bukan tempat kita untuk mencari keuntungan secara individual dan kelompok ,
tetapi kelestarian alam dan seluruh hasil bumi ini harus menjadi agen
produktive untuk kemajuan negara terutama sumberdaya manusia di suatu desa itu
sendiri. Berbicara Desa , sangatlah penting karena desa adalah tempat yang
harus dijadikan daerah produktive bukan hanya menjadi daerah yang hanya di
manfaatkan sumberdaya alam nya dan ketika sudah menbuahkan hasil di tinggal
begitu saja. Aceh sangatlah berperan dalam sumber daya alam , kekayaan alam
yang dimiliki aceh sangat besar , tetapi pemerintah tidak bisa mengalokasinya
untuk kesejahteraan , ini yang saya maksud kemerdekaan yang telah di
deklarasikan pada 17 Agustus 1945 itu tidak mutlak di rasakan secara menyeluruh
oleh rakyat.
Oleh
karena itu jika aceh belum bisa dijadikan tempat produktive dan pemanfaatan seluruh
masayarakat aceh untuk kesejahteraan , lebih baik kita “MERDEKA” untuk
kedepannya. Yang saya harapkan juga kepada pemerintah aceh agar bisa lebih
tegas untuk medirikan dan mempertegas pagar kearifan aceh untuk kedepannya ,
karena aceh rindu akan kearifan lokal yang diberikan oleh pemerintah aceh dan
tidak ada lagi darah berkececeran terhadap kita sesama aceh. Semoga tulisan ini
bisa kita indahkan sesama kita yang rindu akan kearifan Aceh untuk selamanya.
Aceh bukanlah musuh untuk di tindas dan di tinggalkan begitu saja , tetapi
ingatlah 70 tahun silam , aceh sangat berperan dalam kemerdekaan NKRI ini ,
tetapi kita tidak pernah mengungkitnya di NKRI, tetapi sekali lagi coba ingat
dan indahkan sejarah yang telah kita lalui jangan buat aceh sebagai medan perang
untuk sesama pemerintah untuk memperkaya individual dan kelompok lembaga
pemerintah yang ada di pusat dan khususnya Aceh ,kesejahteraan ini harus di
mulai di Desa-desa terpencil yang masih merindukan perhatian dan kelayakan
mereka untuk berproses dan hidup dengan tentram



.jpg)








